Bupati Pemalang Pimpin Doa Bersama di Titik Longsor Desa Wisnu, Siap Bangun Jalan Alternatif Permanen

  • Bagikan
Bupati Pemalang Pimpin Doa Bersama di Titik Longsor Desa Wisnu, Siap Bangun Jalan Alternatif Permanen
banner 468x60

PEMALANG – Bupati Pemalang, Mansur Hidayat, bersama warga Desa Wisnu, menggelar doa bersama di lokasi longsor yang melanda desa tersebut pada Rabu (19/2/2025). Acara ini menandai dimulainya rencana pembangunan ruas jalan alternatif Semingkir – Watukumpul, yang rusak parah akibat bencana tanah longsor.

Dalam kesempatan tersebut, selain memotong tumpeng sebagai simbol harapan dan keberkahan, Bupati juga secara langsung memasang patok di sekitar area yang akan dijadikan jalan alternatif. Ini adalah langkah konkret dalam mewujudkan akses vital bagi masyarakat.

Example 300x600

Dalam sambutannya, Bupati Mansur Hidayat mengungkapkan harapannya agar jalan alternatif yang akan dibangun nanti tidak hanya bersifat sementara, melainkan menjadi solusi permanen. “Harapannya nanti bisa selesai secepat mungkin, mohon dukungan panjenengan semuanya bapak ibu, mudah-mudahan tidak hujan kalau terang cepat pengerjaannya dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Wisnu khususnya dan Kecamatan Watukumpul pada umumnya karena ini jalan utama Semingkir ke Watokumpul,” paparnya, memohon dukungan dan kesabaran dari masyarakat mengingat proses pengerjaan yang akan memakan waktu.

Bupati juga menyampaikan terima kasihnya kepada sejumlah warga Desa Wisnu yang telah dengan ikhlas merelakan sebagian lahannya untuk pembangunan jalan alternatif. Untuk lahan yang berkaitan dengan Perhutani, Bupati meminta dinas terkait segera mengurus perizinannya agar dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Watukumpul, khususnya Desa Wisnu.

Sebelumnya, Kepala Desa Wisnu, Sutejo, menyampaikan rasa terima kasih kepada Bupati beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Pemalang yang berkenan hadir. Dalam laporannya, Sutejo menjelaskan bahwa longsor yang terjadi di Desa Wisnu saat ini merupakan yang terparah dibandingkan kejadian serupa pada tahun 1971, yang hanya berdampak pada lahan pertanian dan jalan setapak.

Bencana longsor kali ini telah merusak akses jalan utama, memberikan beban tidak hanya bagi Desa Wisnu, tetapi juga berdampak pada lima belas desa lainnya di Watukumpul. Akses perekonomian, pertanian, dan pendidikan menjadi terputus. “Kami berupaya dengan warga untuk membuat jalan setapak agar akses pendidikan bisa berjalan. Walaupun harus kita kawal anak-anak SD, SMP dan SMA,” kata Sutejo.

Menyadari besarnya anggaran yang dibutuhkan, Sutejo bersama para Kepala Desa se-Kecamatan Watukumpul berembuk dan sepakat untuk membangun akses jalan alternatif sepanjang sekitar satu kilometer. “Nanti itu muter. Sebagian itu lahan Perhutani dan sebagian lagi tanah warga. Kemudian diadakan musren untuk membahas jalan alternatif yang dimiliki oleh warga. Pada hari itu tercapai kesepakatan mengikhlaskan untuk jalan alternatif,” ungkap Sutejo, menunjukkan semangat gotong royong warga dalam menghadapi bencana ini.

banner 325x300
Editor: Heri AW
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *