Bank Sampah Mawar Biru Tegal Jadi Inspirasi, Dinsos KBPP Pemalang Gelar Sekolah Perempuan Pengelola Sampah

  • Bagikan
Bank Sampah Mawar Biru Tegal Jadi Inspirasi, Dinsos KBPP Pemalang Gelar Sekolah Perempuan Pengelola Sampah
banner 468x60

PEMALANG – Dinas Sosial Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (Dinsos KBPP) Kabupaten Pemalang akan menyelenggarakan program sekolah perempuan dengan fokus pada pengelolaan sampah melalui bank sampah. Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan secara ekonomi, dan mereka menjadikan Bank Sampah Mawar Biru Kota Tegal sebagai model inspirasi.

Kepala Bidang PPPA Dinsos KBPP, Triyatno Yuliharso, menjelaskan bahwa pihaknya menggandeng pengelola Bank Sampah Mawar Biru, Nur Laelatul Aqifah, sebagai narasumber utama. “Kami melihat bahwa Bank Sampah Mawar Biru telah memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Kami ingin menjadikan pengalaman dan wawasan Bu Laelatul sebagai inspirasi bagi perempuan-perempuan di Pemalang, dalam mengelola sampah dan menciptakan peluang ekonomi,” ujar Triyatno saat berkoordinasi ke bank sampah tersebut pada Selasa (11/3/2025).

Example 300x600

 

Perjalanan Bank Sampah Mawar Biru: Dari Masalah Banjir Menjadi Pusat Kreativitas

Didirikan pada 2014 dan resmi berbadan hukum sejak 2016, Bank Sampah Mawar Biru berlokasi di Jl. Rambutan 9 No.12, Kraton, Kota Tegal. Awalnya, bank sampah ini muncul sebagai solusi atas permasalahan banjir akibat penumpukan sampah di lingkungan sekitar.

Kini, Mawar Biru tidak hanya menjadi tempat pengelolaan sampah, tetapi juga pusat kreativitas masyarakat dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Menurut Laelatul, berbagai produk inovatif telah dihasilkan dari limbah daur ulang, seperti ecobrick, tas plastik, tempat minuman, bunga hias, tempat tisu, sepatu, meja tamu, kursi, dan baju berbahan dasar sampah. Bank sampah ini mendorong prinsip daur ulang secara mandiri dengan memanfaatkan limbah dari masyarakat sekitar tanpa membeli plastik baru.

Laelatul bersama suaminya telah menjahit dan mengolah sampah sejak 2012. Salah satu produk unggulan mereka adalah tas berbahan plastik minyak bekas, yang dijual seharga Rp10.000 per unit. “Kunci bertahan adalah niat yang lurus. Tantangan pasti ada, tetapi dengan semangat kebersamaan, kami bisa terus berjalan,” ujarnya.

 

Mekanisme Pengumpulan Sampah dan Tantangan yang Dihadapi

Dalam dialognya, Triyatno Yuliharso menanyakan kepada Laelatul mengenai alur proses pengumpulan sampah, tantangan yang dihadapi, serta bagaimana Bank Sampah Mawar Biru bisa tetap bertahan di tengah berbagai kendala.

Laelatul menjelaskan bahwa proses pengumpulan sampah dilakukan melalui beberapa cara: warga menitipkan sampah ke pengurus bank sampah, datang langsung ke bank sampah, penjemputan oleh tim bank sampah terutama bagi warga yang kesulitan mengantarnya sendiri, dan pengumpulan dalam satu RW lalu menghubungi pengurus untuk dilakukan penjemputan massal.

Tantangan utama yang dihadapi, menurut Laelatul, adalah kesadaran masyarakat yang masih rendah dalam memilah dan mengolah sampah. “Di Paduraksa sudah dibentuk bank sampah, tetapi tidak berjalan karena masyarakat kurang peduli. Bahkan, di lingkungan kami pun banyak yang masih enggan memilah sampah sendiri,” ujarnya. Selain itu, dampak pandemi juga menjadi tantangan tersendiri, di mana banyak warga semakin tergantung pada layanan penjemputan sampah.

 

Strategi Bertahan dan Perluasan Dampak Positif

Meskipun menghadapi berbagai kendala, Bank Sampah Mawar Biru tetap bertahan berkat dukungan pengurus, dedikasi tim, serta bantuan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian dan Bank Indonesia (BI). “Kami juga terus berinovasi, seperti mengumpulkan pakaian bekas dan alat rumah tangga. Bahkan, antusiasme masyarakat begitu tinggi, sampai ada yang mengirimkan barang bekas dari luar kota seperti Bandung dan Pemalang,” tambahnya.

Untuk memperluas dampak positifnya, bank sampah ini tengah merintis program sub-bank sampah di 9 RW di wilayah mereka. Harapannya, semakin banyak warga yang terlibat dalam gerakan daur ulang dan pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan. Pengelolaan sampah juga terus dilakukan dengan sistem harga jual yang jelas, misalnya kardus dihargai Rp2.200 per kg dan duplek kertas Rp1.000 per kg.

Triyatno Yuliharso berharap model pengelolaan seperti ini bisa diterapkan di berbagai wilayah di Kabupaten Pemalang guna meningkatkan kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan. Kunjungan koordinasi ini turut didampingi oleh Analis Kebijakan Ahli Muda Riyanto, Penelaah Teknis Kebijakan Dede Nadiyanah, Pengelola Bidang PPPA Asih Budiningrum, Pekerja Sosial Anugrah Fitria Berliannanda, dan Staf Dinsos Taufik Silvianto, yang berdiskusi mengenai strategi penguatan bank sampah sebagai wadah pemberdayaan perempuan.

banner 325x300
Editor: Heri AW
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *